Human Resource Indonesia | IndoCareerPath.com

Archive for the 'Human Resource Indonesia' Category

CV OK Wawancara KO

Monday, September 5th, 2011

Curriculum Vitae (CV) berisi pengalaman kerja Anda yang mengagumkan berhasil menarik perusahaan untuk mengundang wawancara. Nyatanya, pewawancara menyatakan akan menghubungi Anda segera, tapi tak pernah melakukannya. Mengapa?

Ada banyak tips membuat CV yang efektif serta menjawab pertanyaan dalam wawancara melalui telepon dengan perusahaan potensial. Tetapi hanya sedikit yang bisa melalui wawancara langsung dengan sukses.

Simak beberapa penyebab kegagalan dalam wawancara berikut:

(more…)

Empat senjata utama para job seekers

Monday, September 5th, 2011

Banyak orang frustasi lantaran tidak kunjung mendapat pekerjaan. Padahal mereka sudah merasa berusaha maksimal. Seketika, Anda mungkin menganggap diri tidak pernah beruntung dan selalu bernasib buruk.

Berikut rahasia sukses para pencari kerja:

1. Percaya diri sebagai seorang ‘lucky person’

Berpikirlah positif dan selalu optimis. Ini merupakan salah satu cara untuk mendapatkan pola pikir yang benar dan bisa meraih keberuntungan bagi si pencari kerja. Anda harus benar-benar percaya bahwa hal-hal yang baik akan terjadi. Jangan terlena dengan pikiran negatif.

“Jika Anda yakin beruntung banyak waktu, Anda akan cenderung untuk memperlihatkan perilaku yang membuat orang lebih responsif terhadap Anda,” ujar Martin Seligman, profesor psikologi di University of Pennsylvania dan penulis buku ‘Authentic Happiness’.

2. Anggap diri sebagai seorang istimewa

Jika terus-menerus membandingkan hidup Anda dengan orang lain. Pertimbangkan hal berikut: Hanya karena seseorang mungkin memiliki nasib baik (misal memenangkan lotere atau mendapatkan pekerjaan) itu tidak berarti kebahagiaan terjamin.

Pepatah mengatakan, “Rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau.” Tapi ada hal yang selalu harus diingat, hanya karena sesuatu yang mungkin tampak besar bagi seseorang, itu bukan berarti akan menjadi hal yang juga baik untuk Anda. Anda harus membuka jalan Anda sendiri, bukan terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

3. Belajar kendalikan emosi

Waspadalah dengan kondisi emosi Anda. Emosi negatif bisa menghambat keberuntungan karena bisa memicu kebencian, amarah, cemburu, atau rasa malu. Hal ini justru akan menghambat Anda mendapatkan bantuan atau kerja sama dari orang lain.

Belajarlah mengendalikan emosi negatif yang muncul demi menciptakan rasa lebih optimis, percaya diri, dan ekstrovert. Dengan begitu, semua orang yang tertarik membantu Anda akan berpikir bahwa Anda memiliki kepribadian yang menarik.

4. Berpikir terbuka dan perluas pergaulan

Cobalah selalu berpikir terbuka terhadap segala peristiwa. Lihat setiap kejadian sebagai situasi yang potensial untuk meningkatkan keberuntungan. Misalnya, saat melakukan percakapan dengan seseorang yang duduk di sebelah Anda di pesawat, dapat membuka jaringan kerja. Atau bergaulah dengan kelompok sosial yang berbeda.

“Selalu menjadi orang yang terbuka dalam pergaulan dan bersiaplah untuk membuat kesalahan,” kata John Krumboltz, profesor pendidikan di Universitas Stanford. “Dengan begitu, Anda akan mendapatkan lebih banyak pengalaman hidup.”

Sumber: Viva News

Hubungi kami ahlinya :

Tenaga Kerja Indonesia | Jalur lowongan Karir | employment agency | recruit – recruitment agencies & Career Resources Indonesia.

Ph : +62-21-7077 3509 atau 021-3398 0073 or

email to : hrd@indocareerpath.com

Wawancara?? hal sepele atau menegangkan ??

Monday, September 5th, 2011

Wawancara psikologi punya banyak makna. Ada beberapa versi, salah satunya, menurut Bingham dan Moore, wawancara adalah “… percakapan yang ditujukan untuk mendefinisikan tujuan lain selain kepuasan dalam percakapan itu sendiri “. Sedangkan menurut Weiner, “ Istilah wawancara memiliki sejarah penggunaan akan kembali selama berabad-abad. Biasanya digunakan untuk menggambarkan pertemuan tatap muka individu untuk konferensi formal di beberapa titik “. Dari kedua definisi itu didapatkan kondisi bahwa wawancara adalah pertemuan tatap muka, dengan menggunakan cara lisan, dan mempunyai tujuan tertentu.

Jangan dibayangkan wawancara itu sama dengan interogasi karena tujuan utamanya memang “berbeda”, meskipun sedikit serupa dalam hal menggali dan mencocokkan data. Yang pasti, cara yang dipergunakan dalam kedua hal itu berlainan.

Interogasi lebih menekankan pada tercapainya tujuan, dengan berbagai cara dan akibat, baik secara halus maupun kasar. Posisi interogator lebih tinggi dan bebas daripada yang diinterogasi, serta lebih langsung.

Cocok Berbobot

Wawancara dalam tes psikologi (psikotes) sebenarnya satu paket dengan tes tertulisnya. Tes ini bertujuan mencari orang yang cocok dan pas, baik dari tingkat kecerdasan, serta sifat dan kepribadian. Istilah kerennya mendapatkan “the right man in the right place“.

Dasar pemikiran lain kenapa perlu diadakan seleksi, yaitu adanya perbedaan potensi yang dimiliki setiap individu. Perbedaan itu akan menentukan pula perbedaan dalam pola pikir, tingkah laku, minat, serta pandangannya terhadap sesuatu. Kondisi itu juga akan berpengaruh terhadap hasil kerja. Bisa jadi suatu pekerjaan atau jabatan akan lebih berhasil bila dikerjakan oleh individu yang mempunyai bakat serta kemampuan seperti yang dituntut oleh persyaratan dari suatu pekerjaan atau jabatan itu sendiri.

Ada beberapa tujuan spesifik dari wawancara psikologi. Pertama, observasi. Dalam hal ini calon karyawan dilihat dan dinilai. Mulai dari penampilan, sikap, cara menjawab pertanyaan, postur – terutama untuk pekerjaan yang memang membutuhkannya, seperti tentara, polisi, satpam, dan pramugari. Penilaian juga menyangkut bobot jawaban dan kelancaran dalam menjawab.

Demikian pula perilaku dan sikap-sikap yang akan muncul secara spontan bila berada dalam situasi yang baru dan mungkin menegangkan. Misalnya, mata berkedip-kedip atau memutar jari-jemari yang dilakukan tanpa sadar.

Dalam hal bobot jawaban, misalnya, si calon bisa dinilai apakah ia memberikan jawaban yang dangkal atau tidak, atau malah berbelit-belit. Jawaban berupa “Ingin naik pesawat” atau “Ingin ke luar negeri” merupakan contoh jawaban yang dinilai dangkal atas pertanyaan alasan menjadi pramugari.

Sedangkan kelancaran dalam menjawab biasanya dinilai dari berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh seorang calon karyawan untuk menjawab pertanyaan.

Dalam wawancara psikologi yang diperlukan sebenarnya jawaban spontan dan tidak mengada-ada. Misalnya, apabila ditanya alamat, sebut saja alamat kita. Tidak usah ditambah-tambahi atau malah berlagak sok pintar.

Tujuan berikutnya dalam tes wawancara adalah menggali data yang tidak didapatkan dari tes tertulis. Misalnya, apakah istri bekerja, anak bersekolah di mana, masih tinggal bersama orangtua atau tidak, serta apa judul skripsi dan berapa nilai yang didapat.

Yang tidak kalah penting dalam mempengaruhi penilaian adalah kecocokan data. Benarkah data yang ditulis oleh sang calon?

Atas dasar itu seorang psikolog sering melontarkan pertanyaan untuk menilai tingkat pemahaman dan intelegensi si calon. Misalnya, calon mengaku berpendidikan S2, maka diajukan pertanyaan yang sesuai dengan tingkat pendidikan itu. Bila jawabannya kurang bermutu, dapat saja diambil kesimpulan bahwa calon memiliki intelegensi yang kurang atau dianggap tidak serius selama menjalani proses pendidikan.

Sering juga terjadi hasil tes tulis bagus, tapi hasil wawancaranya kurang meyakinkan. Hal ini bisa terjadi karena mungkin ia telah beberapa kali mengikuti psikotes atau pernah mengikuti bimbingan psikotes. Tes ulang dapat menjadi alat untuk mengatasi keraguan itu.

Dalam konteks di atas, tidaklah mungkin seorang calon membohongi psikolog. Riskan pula bila dia tidak menjawab dengan sebenarnya. Terbuka sudah kepribadiannya yang tidak jujur, padahal kejujuran merupakan prasyarat penting untuk perusahaan.

Pada wawancara untuk evaluasi karyawan atau promosi jabatan biasanya data curiculum vitae (CV) dari instansi atau perusahaan sudah diberikan semua dari Bagian Personalia.

Manfaat lain wawancara adalah melengkapi data yang terlupakan atau tidak tertulis secara lengkap. Misalnya, sudah pernah mengalami psikotes atau belum. Kalau sudah, berapa kali? Untuk apa? Lulus atau tidak? Mungkin juga minat ataupun gaji yang diinginkan. Yang terakhir, manfaat wawancara yaitu untuk membuat keputusan.

Dari hasil pemeriksaan psikologi tertulis dan wawancara, dibuatlah kesimpulan, apakah calon ini memenuhi syarat seperti job description yang diberikan oleh perusahaan atau tidak.

Terkadang ada psikotes yang tidak menggunakan wawancara. Semua itu tergantung tujuan pemeriksaan, ketersediaan data yang mungkin sudah lengkap, serta tidak begitu mensyaratkan penampilan atau postur. Misalnya, bila yang diperlukan operator komputer, yang penting dia bisa komputer dan inteligensinya cukup.

Hubungi kami ahlinya :

Tenaga Kerja Indonesia | Jalur lowongan Karir | employment agency | recruit – recruitment agencies & Career Resources Indonesia.

Ph : +62-21-7077 3509 atau 021-3398 0073 or

email to : hrd@indocareerpath.com

Copyright © 2009 - IndoCareerPath.com - is proudly powered by SIEN Tech.com